Sigolro, Ikat Kepala Tradisional Khas Kaidipang Besar Dihidupkan Kembali

Podcast101 Dilihat

(Foto : Istimewa)

Bolaang, Mongondow Utara — Upaya menghidupkan kembali khazanah adat dan kebudayaan Bolaang Mongondow Utara terus dilakukan oleh para pemerhati budaya. Salah satunya melalui pelestarian Sigolro atau Sigolo, ikat kepala tradisional yang dahulu menjadi bagian dari busana adat masyarakat Kaidipang Besar.

Majelis Adat Indonesia
“Jika adat hilang, kita kehilangan arah.”
Bersama Majelis Adat Indonesia, jaga yang tersisa sebelum terlambat.
Kunjungi MAIADAT.OR.ID

Gagasan untuk menghidupkan kembali tradisi penggunaan Sigolro tersebut bermula pada 11 Maret 2026, ketika dua pemerhati budaya Bolaang Mongondow Utara, Fadly Tajudin Usup dan Iftiqar S.A. Ponto, membicarakan pentingnya menggali kembali berbagai tradisi leluhur yang mulai jarang terlihat dalam kehidupan masyarakat.

Pembicaraan tersebut salah satunya terinspirasi dari sebuah foto Raja Kaidipang Besar, RS Pontoh, yang diperkirakan diambil sekitar tahun 1930. Dalam foto tersebut, sang raja terlihat mengenakan ikat kepala berbahan kain yang kemudian diketahui sebagai Sigolro atau Sigolo.

Setelah dilakukan penelusuran dan pendalaman mengenai bentuk serta keberadaan ikat kepala tersebut, Fadly Tajudin Usup dan Iftiqar S.A. Ponto melihat bahwa Sigolro memiliki nilai sejarah dan budaya yang penting untuk diperkenalkan kembali kepada generasi masa kini.

Pasalnya, penggunaan Sigolro pada masa sekarang sudah sangat jarang ditemukan, bahkan hampir tidak lagi terlihat dalam kehidupan masyarakat di wilayah Bolaang Mongondow Utara.

Berangkat dari kondisi tersebut, keduanya kemudian berinisiatif untuk menghidupkan kembali tradisi Sigolro sebagai bagian dari upaya pelestarian identitas budaya daerah.

Gagasan itu tidak berhenti pada tahap pembicaraan, tetapi terus dikembangkan melalui proses pencarian referensi, pendalaman bentuk dan karakter ikat kepala, hingga memasuki tahap pembuatan.
Kini, Sigolro hasil pengembangan tersebut telah siap untuk diperkenalkan kepada masyarakat secara lebih luas, baik melalui berbagai kegiatan adat dan budaya maupun even berskala nasional.

Upaya menghidupkan kembali Sigolro bukan semata-mata menghadirkan kembali sebuah aksesori tradisional, melainkan juga menjadi bagian dari usaha merawat ingatan sejarah, identitas, serta warisan budaya leluhur Bolaang Mongondow Utara.

Pelestarian budaya seperti ini dinilai penting agar generasi muda tidak hanya mengenal kebudayaan daerah melalui cerita atau dokumentasi sejarah, tetapi juga dapat melihat, mengenakan, memahami, dan memperkenalkannya dalam kehidupan masa kini.

Fadly Tajudin Usup dan Iftiqar S.A. Ponto berharap kembalinya Sigolro dapat menjadi angin segar sekaligus motivasi baru bagi masyarakat untuk semakin menggali, merawat, dan memperkenalkan berbagai khazanah adat dan kebudayaan Bolaang Mongondow Utara.

Dengan demikian, Sigolro diharapkan tidak berhenti sebagai simbol masa lalu, tetapi dapat menjadi bagian dari kebangkitan budaya lokal yang terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Menghidupkan kembali Sigolro berarti membuka kembali ruang bagi sejarah dan identitas budaya Bolaang Mongondow Utara untuk dikenal dan dihargai oleh generasi masa kini dan masa depan. (Red/Mai)

Komentar