S.A.S. Ponto: Putra Bolangitang yang Mengharumkan Nama Indonesia di Dunia Pertanian Internasional

Podcast554 Dilihat

JAKARTA – Nama Simon Anton Samidin Ponto (S.A.S. Ponto) mungkin belum banyak dikenal oleh generasi masa kini. Namun, sosok kelahiran Bolangitang, Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara, pada 14 Desember 1902 ini merupakan salah satu putra bangsa yang menorehkan jejak penting dalam sejarah pertanian, ilmu pengetahuan, dan pengelolaan sumber daya alam Indonesia.

S.A.S. Ponto merupakan putra dari pasangan Sinjo Ponto dan Matina Usup Lauma, yang berasal dari lingkungan keluarga Dinasti Raja-Raja Bolangitang. Sejak usia dini, ia telah menunjukkan kecerdasan dan potensi yang luar biasa. Menurut penuturan keluarga besar Ponto-Pontoh, sekitar usia lima tahun ia dibawa oleh pamannya, Philip Pontoh, dari Bolangitang ke Bogor untuk menempuh pendidikan dan tinggal di asrama Don Bosco.

Majelis Adat Indonesia
“Jika adat hilang, kita kehilangan arah.”
Bersama Majelis Adat Indonesia, jaga yang tersisa sebelum terlambat.
Kunjungi MAIADAT.OR.ID

Pendidikan Modern di Era Hindia Belanda
Berdasarkan catatan Landbouw (Departemen Pertanian Hindia Belanda), perjalanan pendidikan S.A.S. Ponto meliputi:
Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Kotamobagu, Bolaang Mongondow;
Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Tondano, Minahasa (1918–1922);
Middelbare Landbouwschool Buitenzorg (1922–1926), sekolah pertanian menengah di Bogor yang kemudian dikenal sebagai salah satu cikal bakal berdirinya Institut Pertanian Bogor (IPB).

Latar belakang pendidikan tersebut menjadikan S.A.S. Ponto sebagai salah satu tenaga ahli pertanian pribumi yang sangat dihormati pada masanya.

Peraih Gelar Ksatria dari Kerajaan Belanda
Salah satu penghargaan paling bergengsi yang diterimanya adalah gelar Ridder in de Orde van Oranje-Nassau (Ksatria Orde Oranje-Nassau) dari Ratu Wilhelmina melalui keputusan kerajaan Belanda Nomor 99 tertanggal 13 September.

Menurut cerita turun-temurun keluarga, penghargaan tersebut diberikan atas keberhasilannya mengatasi wabah tanaman kaktus liar yang mengganggu kawasan permukiman di Makassar. Dengan pendekatan ilmiah yang inovatif, S.A.S. Ponto disebut memanfaatkan serangga kutu putih sebagai pengendali hayati sehingga penyebaran tanaman tersebut dapat ditangani tanpa merusak lingkungan.

Ahli Pertanian, Peneliti, dan Penulis Ilmiah
Karier S.A.S. Ponto berkembang pesat di lingkungan Landbouw Hindia Belanda pada periode 1935–1946. Selain dikenal sebagai praktisi pertanian, ia juga aktif melakukan penelitian dan menulis karya ilmiah.

Salah satu publikasinya yang terkenal adalah “De Teken van den Oost-Indischen Archipel” (1932) yang disusun bersama B.J. Krijgsman. Karya tersebut menjadi referensi penting mengenai sistematika dan biologi caplak (ticks) di wilayah Hindia Belanda dan masih memiliki nilai historis dalam perkembangan ilmu zoologi dan entomologi.
Ia juga menulis sejumlah kajian mengenai serangga dan pertanian, termasuk karya berjudul “Pemakaian dan Pemeliharaan Tanah” yang diterbitkan dalam Almanak Pertanian Tahun 1954.

Tulisan tersebut membahas prinsip-prinsip konservasi tanah, pengelolaan lahan, dan pemanfaatan sumber daya pertanian secara berkelanjutan pada masa awal kemerdekaan Indonesia.

Mewakili Indonesia di Forum Dunia
Dedikasi dan kompetensinya mendapat pengakuan dari Pemerintah Republik Indonesia. Melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 173 Tahun 1951, S.A.S. Ponto ditunjuk sebagai delegasi resmi Indonesia dalam International Meeting on Land Utilisation in Tropical Regions yang diselenggarakan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) di Nuwara Eliya, Ceylon (Sri Lanka) pada 17–29 September 1951.

Forum internasional tersebut membahas pemanfaatan lahan tropis untuk mendukung ketahanan pangan dan pembangunan pertanian negara-negara berkembang.
Selain itu, ia juga tercatat mengikuti berbagai kegiatan ilmiah dan konferensi internasional, antara lain:

Konferensi Beras Asia di Baguio, Filipina (1–13 Maret 1948);
International Soil Conservation Program di Texas, Amerika Serikat (2 September 1954–22 Januari 1955);
Asia Pacific Forestry Commission di Bandung (4–21 Juni 1957).

Menguasai Beragam Bahasa Nusantara
Catatan Landbouw tertanggal 7 Maret 1938 menyebutkan bahwa S.A.S. Ponto menguasai berbagai bahasa daerah dan bahasa pergaulan, antara lain Melayu, Bolangitang, Kaili, Mongondow, Gorontalo, serta Sunda. Kemampuan tersebut sangat membantu tugasnya dalam melakukan pendampingan dan pengembangan sektor pertanian di berbagai wilayah Nusantara.

Pertemanan dengan Keluarga Habibie
Dalam perjalanan kariernya di Sulawesi, S.A.S. Ponto diketahui pernah bertemu kembali dengan rekan satu almamaternya di Middelbare Landbouwschool Buitenzorg, yakni Alwi Abdul Jalil Habibie, ayah dari Presiden ke-3 Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie.

Keduanya sama-sama berkiprah dalam lingkungan Landbouw Hindia Belanda dan menjadi bagian dari generasi intelektual pribumi yang berkontribusi bagi pembangunan pertanian Indonesia.
Wafat dan Warisan Pengabdian
Setelah puluhan tahun mengabdikan diri bagi dunia pertanian, penelitian, dan pembangunan bangsa, S.A.S. Ponto wafat pada Kamis, 17 November 1971, di Rumah Sakit Angkatan Laut Bendungan Hilir Jakarta yang kini dikenal sebagai Rumah Sakit Angkatan Laut Mintohardjo.

Beliau meninggalkan enam orang putra-putri—tiga putra dan tiga putri—dari pernikahannya dengan Raden Julaeha. Jenazahnya dimakamkan di TPU Kebon Kopi, Kota Bogor.

Inspirasi bagi Generasi Bangsa
Jejak hidup S.A.S. Ponto menunjukkan bahwa putra daerah dari pelosok Nusantara mampu tampil di panggung internasional melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, dan pengabdian kepada masyarakat. Kiprahnya sebagai ahli pertanian, peneliti, penulis, dan delegasi Indonesia di berbagai forum dunia menjadikannya salah satu tokoh penting yang patut dikenang dalam sejarah pembangunan pertanian nasional.

Di tengah tantangan ketahanan pangan dan perubahan iklim saat ini, semangat inovasi, dedikasi, dan kecintaan S.A.S. Ponto terhadap ilmu pengetahuan menjadi teladan berharga bagi generasi Indonesia masa kini dan masa depan.(Mai)

Komentar