(Bonji Ponto dan Masa Keemasan Bolaang-Itang: Dari Komalig hingga Jembatan Biontong/ foto:istimewa)
www.maiadat.or.id — Setelah berakhirnya masa pemerintahan Raja Suit Ponto, tampuk kepemimpinan Kerajaan Bolaang-Itang dilanjutkan oleh Bonji Ponto. Ia mulai memerintah sekitar tahun 1887.
Meskipun terdapat perbedaan catatan mengenai awal masa pemerintahannya, Bonji Ponto tercatat menandatangani kontrak politik dengan Residen Manado, Eeltje Jelles Jellesma, pada 12 September 1895. Kontrak tersebut kemudian diperbarui pada 25 Juli 1897 dan kembali ditegaskan melalui kontrak terakhir yang ditandatangani pada 26 Maret 1901.
Dalam sejarah Bolaang-Itang, Raja Bonji Ponto dikenal sebagai seorang pembaharu. Pada masa pemerintahannya dibangun Komalig (istana kerajaan) dan masjid kerajaan, yang menjadi simbol kemajuan pemerintahan saat itu. Selain itu, ia juga mendirikan sebuah sekolah yang dipimpin oleh N.L. Ponto, sebagai wujud perhatian terhadap pendidikan masyarakat.
Setelah memerintah dalam waktu yang cukup lama, Raja Bonji Ponto mengajukan permohonan berhenti karena faktor usia dan kondisi kesehatan. Pemerintah Hindia Belanda kemudian memberhentikannya dengan hormat berdasarkan Besluit Gubernemen tanggal 18 September 1906 Nomor 10.
Berdasarkan besluit yang sama, Philip Ponto diangkat sebagai pejabat Raja Bolaang-Itang dengan gelar President Raja. Namun, sejumlah catatan sejarah lainnya menyebutkan bahwa Sinjo Ponto, putra Raja Bonji Ponto yang saat itu menjabat sebagai Jogugu, ditunjuk sebagai President Raja untuk menjalankan pemerintahan Bolaang-Itang sementara waktu setelah pengunduran diri ayahnya.
Salah satu peninggalan penting pada masa pemerintahan Raja Bonji Ponto adalah pembangunan Jembatan Biontong, yang mulai dikerjakan pada tahun 1902 dan menjadi sarana penting bagi mobilitas masyarakat pada masa itu.
Dari permaisurinya, Boki Dalima Babay, Raja Bonji Ponto memiliki beberapa orang anak yang tercatat dalam silsilah keluarga kerajaan, yaitu:
Sinjo Ponto, President Raja;
Philip Ponto, Jogugu;
Nicklas Lajunju Ponto, Marsaole;
Boki Sinanggoi, yang kemudian menjadi Permaisuri Raja Bintauna.
Hingga kini, tongkat kebesaran Raja Bonji Ponto serta pisau pusaka President Raja Sinjo Ponto masih tersimpan dan terawat oleh keluarga besar S.A.S. Ponto, yang merupakan keturunan langsung dan anak tunggal dari Sinjo Ponto.
Salah satu dokumentasi keluarga yang berharga adalah foto yang diambil pada sekitar tahun 1950-an ketika Philip Pontoh bersiap berangkat menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Dalam foto tersebut, Philip Pontoh tampak mengenakan jas putih, sementara di sampingnya berdiri S.A.S.
Ponto dengan jas berwarna abu-abu. Foto tersebut diabadikan di Bogor, yang pada masa itu merupakan tempat kediaman keluarga S.A.S. Ponto.
Selain itu, terdapat pula foto keluarga yang menampilkan Nicklas Lajunju Ponto, putra Raja Bonji Ponto yang menjabat sebagai Marsaole, serta dokumentasi tongkat Jogugu Philip Pontoh yang hingga kini menjadi bagian dari warisan sejarah keluarga dan Kerajaan Bolaang-Itang.
Dilansir juga dari
https://iftiqarponto.blogspot.com/2026/08/raja-bolangitang-bonji-ponto-pontoh.html
(MAI)
Tulisan ini disusun dengan merujuk pada berbagai referensi, termasuk hasil penelitian para ilmuwan, kajian ahli sejarah Nusantara, temuan para ahli geologi, arsip kolonial, serta keterangan dari keturunan Raja-raja Ponto.












Komentar