Oleh: Iftiqar S.A. Ponto
Jakarta — Kerajaan atau Kedatuan Siau merupakan salah satu kerajaan tua yang memiliki peran penting dalam sejarah Kepulauan Siau, Tagulandang, dan Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara.
Berdasarkan catatan tradisi yang diwariskan turun-temurun, berdirinya Kedatuan Siau bermula pada tahun 1510, ketika Lokombanua II, yang dikenal pula sebagai Pontoulune atau Raja Ponto, memproklamasikan dirinya sebagai Kulano pengganti ayahnya, Pahawonsuluge, di wilayah Katutungan (kini dikenal sebagai Paseng).
Setelah menerima amanah kepemimpinan, Lokombanua II mengundang seluruh kulano yang berada di Pulau Siau untuk bermusyawarah. Dalam pertemuan tersebut, para pemimpin adat bersepakat membentuk sebuah pemerintahan yang lebih terstruktur dalam bentuk Kedatuan Siau, yang dipimpin oleh seorang Datu (Raja).
Melalui musyawarah mufakat itu, seluruh kulano secara bulat mengangkat Lokombanua II sebagai Datu pertama. Sejak saat itulah Kedatuan Siau resmi berdiri pada tahun 1510, menjadikan Lokombanua II sebagai pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Siau.
Raja Ponto dalam Catatan Pigafetta
Sejarawan Sangihe, Jupiter Makasangkil II, menyebut bahwa sosok Raja Ponto yang tercatat dalam tulisan Antonio Pigafetta merujuk kepada Pontoulune atau Lokombanua II.
Pigafetta adalah seorang ilmuwan dan penjelajah asal Vicenza, Italia, yang ikut dalam ekspedisi pelayaran dunia pertama yang dipimpin oleh Ferdinand Magellan. Ekspedisi tersebut berangkat dari Spanyol pada 20 September 1519 dengan lima kapal dan sekitar 270 awak.
Lima kapal yang mengikuti pelayaran tersebut adalah, Trinidad, San Antonio, Concepción, Victoria, Santiago.
Ekspedisi itu kemudian menjadi perjalanan pertama yang berhasil mengelilingi dunia.
Setelah Magellan gugur dalam Pertempuran Mactan, Filipina, pada 27 April 1521, pelayaran dilanjutkan oleh Juan Sebastián Elcano bersama juru mudi Enrique de Malacca hingga kembali ke Spanyol pada 6 September 1522 dengan hanya satu kapal yang tersisa, yakni Victoria, serta 18 awak yang berhasil selamat.
Catatan Pigafetta mengenai wilayah-wilayah di Nusantara kemudian menjadi salah satu referensi penting dalam penelusuran sejarah kerajaan-kerajaan di kawasan Sulawesi Utara, termasuk Kerajaan Siau.
Silsilah Dinasti Ponto-Pontoh
Dalam catatan silsilah yang disusun dan ditandatangani oleh John Rahasia, serta dikonfirmasi oleh E.A. Kansil pada 10 Oktober 1977, disebutkan bahwa garis keturunan Raja Siau pertama, Lokombanua II, berlanjut hingga generasi Filivinia Silagondo Jacobus, putri Raja Siau Ismael Jacobus.
Filivinia Silagondo Jacobus kemudian menikah dengan Raja Bolangitang Salmon Muda Ponto (Pontoh). Dari pernikahan tersebut lahirlah keturunan yang melanjutkan dinasti kerajaan di wilayah Bolangitang.
Di antara keturunan mereka yang tercatat dalam sejarah adalah:
- Raja Siau Nicholaas Ponto;
- Raja Bolangitang Daud Ponto.
Selanjutnya, - Raja Bolangitang Daud Ponto bersama permaisurinya, Boki Nanggio Ponto, menurunkan beberapa keturunan penting, di antaranya:
•Raja Bolangitang Israel Ponto;
•Raja Siau Jacob Ponto, yang memerintah pada periode 1851–1889.
•Raja Jacob Ponto dan •Pengasingan oleh Belanda
Dalam perjalanan sejarahnya, Raja Siau Jacob Ponto mengalami konflik dengan pemerintah kolonial Belanda. Pada tahun 1889, beliau ditangkap dan diasingkan oleh pemerintah kolonial.
Jacob Ponto ditawan di atas kapal sebelum kemudian dibuang ke wilayah Karesidenan Cirebon, Jawa Barat. Dalam masa pengasingan tersebut, beliau wafat pada 3 Mei 1890, meninggalkan jejak perjuangan yang dikenang dalam sejarah Kerajaan Siau.
Raja Salmon Muda Ponto dan Kebangkitan Bolangitang
Selain Lokombanua II sebagai pendiri Kedatuan Siau, sejarah Dinasti Ponto-Pontoh juga mencatat peran besar Raja Salmon Muda Ponto.
Salmon Muda Ponto dikenal sebagai Raja Bolangitang pertama setelah Kerajaan Bolangitang mengalami pembekuan oleh VOC pada tahun 1677, ketika kerajaan tersebut dipimpin oleh ratu bernama Linkakoa.
Menurut catatan sejarah, pengangkatan resmi Raja Salmon Muda Ponto terjadi pada masa pemerintahan kolonial Inggris di Sulawesi Utara sekitar tahun 1811.
Kepemimpinannya menjadi tonggak penting dalam kebangkitan kembali pemerintahan Bolangitang dan kelanjutan Dinasti Ponto-Pontoh.
Dua Tokoh Pendiri Dinasti Ponto-Pontoh
Berdasarkan berbagai catatan tradisi, silsilah keluarga, dan sejarah kerajaan yang berkembang di Sulawesi Utara, dapat disimpulkan bahwa Dinasti Ponto-Pontoh memiliki dua tokoh sentral yang menjadi fondasi utama keberadaannya, yaitu:
Lokombanua II (Pontoulune/Raja Ponto) sebagai pendiri Kedatuan Siau pada tahun 1510.
Raja Salmon Muda Ponto sebagai pelopor kebangkitan kembali Kerajaan Bolangitang dan penerus utama Dinasti Ponto-Pontoh.
Kedua tokoh tersebut memiliki peran historis yang sangat penting dalam membangun dan mempertahankan eksistensi kerajaan-kerajaan yang menjadi bagian dari warisan sejarah dan budaya masyarakat Sulawesi Utara hingga saat ini.(Redaksi; Majelis Adat Indonesia)












Komentar