Pesan Moral M. Rafik Datuk Rajo Kuaso, Keikhlasan dan Taubat sebagai Benteng Akhlak Umat dan Masyarakat Adat Nusantara

Berita, Pengumuman20 Dilihat

Jakarta — Dalam Forum Komunikasi Majelis Adat Indonesia (MAI) yang dihadiri oleh para Raja, Sultan, Datuk, Ratu, serta tokoh pemangku adat se-Nusantara, M. Rafik Datuk Rajo Kuaso menyampaikan tausiyah dan pesan moral yang menekankan pentingnya keikhlasan dan keteguhan dalam kembali kepada Allah sebagai fondasi utama pembentukan akhlak.

Majelis Adat Indonesia
“Jika adat hilang, kita kehilangan arah.”
Bersama Majelis Adat Indonesia, jaga yang tersisa sebelum terlambat.
Kunjungi MAIADAT.OR.ID

Dalam penyampaiannya, beliau menegaskan bahwa kekuatan sejati seorang manusia bukan terletak pada ketidaksempurnaannya, melainkan pada kesungguhannya untuk senantiasa kembali kepada Tuhan.

“Setan menyerah pada orang yang ikhlas, bukan karena orang itu tidak pernah jatuh. Tetapi karena setiap kali ia jatuh, ia kembali kepada Allah—bukan kepada pujian manusia, bukan kepada pembuktian diri, dan bukan kepada rasa bangga,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kondisi jatuh, merasa jauh, atau bahkan merasa tidak layak, bukanlah akhir dari perjalanan spiritual seseorang. Justru, selama pintu untuk kembali kepada Allah masih terbuka, seseorang berada di jalan yang paling ditakuti oleh godaan setan.

Lebih lanjut, beliau mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Forum ini menegaskan bahwa pesan tersebut bukan sekadar refleksi spiritual pribadi, melainkan menjadi panggilan moral kolektif untuk memperkuat akhlak di tengah kehidupan umat manusia, khususnya dalam lingkungan masyarakat adat di seluruh Nusantara.

Nilai-nilai keikhlasan, taubat, dan penyucian diri dipandang sebagai fondasi penting dalam menjaga marwah adat, memperkuat etika sosial, serta menuntun kehidupan yang selaras antara adat dan nilai-nilai ketuhanan.

Majelis Adat Indonesia (MAI) berharap, melalui pesan ini, kesadaran akan pentingnya akhlak mulia dapat terus tumbuh dan mengakar, tidak hanya di kalangan pemangku adat, tetapi juga di tengah masyarakat luas sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan moral dan spiritual bangsa.

Komentar