MAJELIS ADAT INDONESIA — Pembina Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia, Yangmulia HRM Soekarna, menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kondisi pemahaman ideologis bangsa saat ini, khususnya terkait makna hakiki Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang murni dan konsekuen.
Pernyataan tersebut disampaikan HRM Soekarna dalam Forum Komunikasi Majelis Adat Indonesia (MAI) yang dihadiri para Raja, Sultan, Datuk, Ratu, serta tokoh-tokoh pemangku adat se-Nusantara, sebagai representasi penjaga nilai, sejarah, dan jati diri bangsa Indonesia.
“Si orang tua hanya tertunduk. Belum ada generasi penerus bangsa yang tampil dan benar-benar memahami arti dan makna Pancasila dengan UUD 1945 yang murni dan konsekuen secara utuh dan menyeluruh, baik yang tersurat maupun yang tersirat,” ungkap HRM Soekarna dengan nada reflektif.(16/1/2026)
Menurutnya, Pancasila dan UUD 1945 tidak sekadar teks normatif atau slogan seremonial, melainkan sistem nilai, falsafah hidup, serta kontrak luhur bangsa yang menuntut pemahaman mendalam, penghayatan, dan pengamalan yang konsisten dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.
HRM Soekarna menegaskan bahwa kegagalan generasi saat ini dalam memahami ruh dan jiwa konstitusi bangsa berpotensi melahirkan krisis multidimensi mulai dari krisis moral, krisis kepemimpinan, hingga krisis keadilan sosial.
“Kondisi ini ironis, tragis, dan miris. Ironis karena kita mengaku Pancasilais. Tragis karena nilai-nilainya tergerus. Miris karena pewarisnya belum tampak,” tegasnya.
Foto yang menyertai pernyataan tersebut memperlihatkan HRM Soekarna dalam posisi tertunduk, berselimut busana putih, dengan latar simbol senjata tradisional Nusantara yang berdiri tegak di belakangnya. Gambar ini menyiratkan kontemplasi mendalam seorang maestro kebangsaan, seorang penjaga nilai yang menyaksikan perjalanan bangsa dengan keprihatinan sekaligus harapan.
Busana putih melambangkan ketulusan, kejernihan niat, dan kesucian nilai, sementara senjata tradisional menjadi simbol kedaulatan, kehormatan, dan keteguhan prinsip leluhur. Tertunduknya sang tokoh bukan tanda kelemahan, melainkan renungan seorang penjaga amanah sejarah atas masa depan bangsa.
Seruan Moral Kebangsaan
Melalui forum MAI, HRM Soekarna menyerukan agar Majelis Adat Indonesia bersama seluruh elemen bangsa kembali mengambil peran strategis sebagai penjaga nilai, etika, dan moral kebangsaan, sekaligus menjadi jembatan regenerasi ideologis bagi anak cucu bangsa.
“Bangsa besar bukan hanya bangsa yang maju secara ekonomi, tetapi bangsa yang setia pada nilai dan jati dirinya,” pungkasnya.
Majelis Adat Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang dialog, refleksi, dan gerakan moral kebangsaan demi menjaga keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Media Center: Majelis Adat Indonesia/ (MAI)
Media Center Majelis Adat Indonesia/MAI







Komentar