Majelis Adat Indonesia Perkuat Naskhah Kedaulatan Melayu sebagai Ikatan Adat Serumpun Nusantara–Melayu

Naskhah Kedaulatan Melayu yang meneguhkan ikrar silaturrahim dan kedaulatan adat serumpun Nusantara–Melayu, dititahkan atas nama Duli Yang Teramat Mulia Sripaduka Muhammad Rafik Datuak Rajo Kuaso Cumati Koto Piliang Langgam Nan Tujuh Kerajaan Pagaruyung, Nusa Sumatra Barat, serta diteguhkan oleh Tok Embah Dato’ Paduka Seri Azami bin Abah Mohamed, Pengasas dan Seri Pangkuan Bendahara Naskhah Kedaulatan Melayu, sebagai manifestasi nilai tauhid, adat, dan marwah peradaban Melayu lintas negara.(istimewa)

JAKARTA / MELAKA —Berkat gusti Allah SWT, serta selawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad SAW, sebuah peristiwa adat dan peradaban kembali mengukuhkan makna persaudaraan serumpun Nusantara–Melayu melalui Naskhah Kedaulatan Melayu, sebuah dokumen adat yang menjunjung tinggi nilai tauhid, adab, dan silaturrahim lintas negeri.

Dalam falsafah adat Melayu disebutkan, “Menjunjung adat bertampok alam setelah bertenteng batu, berurat benang dengan mata hati, di latar inilah bertindik silaturrahim.” Naskhah ini tidak sekadar menjadi teks simbolik, melainkan ikrar peradaban yang menghubungkan kembali sejarah, marwah, dan kedaulatan adat Melayu dalam bingkai ukhuwah dan kehormatan bersama.

Momentum sakral ini terpatri atas nama Duli Yang Teramat Mulia Sripaduka Muhammad Rafik Datuak Rajo Kuaso Cumati Koto Piliang Langgam Nan Tujuh Kerajaan Pagaruyung, Nusa Sumatra Barat, yang selama ini dikenal sebagai tokoh adat yang konsisten menjaga kesinambungan nilai-nilai Pepatih dan adat Minangkabau dalam lanskap Nusantara.

Allahuakbar walillahilham, Naskhah Kedaulatan Melayu ini turut diteguhkan oleh Tok Embah Dato’ Paduka Seri Azami bin Abah Mohamed, selaku Pengasas dan Seri Pangkuan Bendahara Naskhah Kedaulatan Melayu, sebagai wujud amanah adat dan tanggung jawab moral dalam menjaga kedaulatan peradaban Melayu lintas zaman dan wilayah.

Penguatan makna Naskhah Kedaulatan Melayu ini tidak terlepas dari rangkaian peristiwa bersejarah yang sebelumnya telah dicatatkan Majelis Adat Indonesia (MAI) melalui pelaksanaan dinas luar negeri pertamanya ke Malaysia, yang menjadi tonggak penting diplomasi adat dan budaya serumpun.

Dalam kunjungan tersebut, delegasi MAI yang dipimpin oleh Duli Yang Maha Mulia Sri Paduka Baginda Berdaulat Agung Prof. Dr. M.S.P.A. Iansyah Rechza F.W., Ph.D., Maharaja Kutai Mulawarman, menegaskan bahwa hubungan adat Nusantara–Melayu bukan sekadar warisan sejarah, melainkan ikatan hidup yang terus diperbaharui melalui dialog peradaban, ekonomi kreatif, dan persaudaraan budaya.

Sekretaris Jenderal MAI, M. Rafik Datuk Rajo Kuaso, sebelumnya juga telah menerima penganugerahan Darjah Kerabat Undang Naning dari Yang Amat Mulia Dato’ Undang Wilayah Naning, Melaka ke-22, berdasarkan ketetapan Perlembagaan Negeri Melaka. Penganugerahan tersebut menjadi pengakuan kehormatan lintas negara atas dedikasi dan peran aktifnya dalam memperkuat adat Pepatih dan persaudaraan serumpun Nusantara–Melayu.

Penghargaan dan sertifikat kehormatan yang telah diterima itu kini menemukan makna spiritual dan filosofisnya dalam Naskhah Kedaulatan Melayu, sebagai simpul penyambung antara pengakuan adat, legitimasi peradaban, dan tanggung jawab moral lintas generasi.

Majelis Adat Indonesia menegaskan bahwa Naskhah Kedaulatan Melayu bukanlah akhir dari sebuah peristiwa, melainkan awal dari ikhtiar panjang untuk terus mempererat jaringan adat dunia, menjaga marwah kedaulatan budaya, serta menghadirkan nilai-nilai luhur Nusantara–Melayu sebagai pilar etika dan peradaban global.

Media Center: Majelis Adat Indonesia/MAI// (Bar.S)

Komentar